Yohanes 15:12-17 "Sahabat Yesus"
"Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain." (Yoh.15:12-17)
Sebuah Kisah: Andy, Sahabat Yesus
Ada
seorang bocah kelas 4 SD di suatu daerah di Milaor Camarine Sur, Filipina, yang
setiap hari mengambil rute melintasi daerah tanah bebatuan dan menyeberangi
jalan raya yang berbahaya di mana banyak kendaraan yang melaju kencang dan
tidak beraturan.
Setiap
kali berhasil menyeberangi jalan raya tersebut, bocah ini mampir sebentar ke
Gereja setiap pagi hanya untuk menyapa Tuhan. Tindakannya selama ini diamati
oleh seorang Pendeta yang merasa terharu menjumpai sikap bocah yang lugu dan
beriman tersebut.
“Bagaimana
kabarmu Andy? Apakah kamu akan ke sekolah?”
“Ya,
Bapa Pendeta!” Balas Andy dengan senyumnya yang menyentuh hati Pendeta
tersebut.
Dia
begitu memperhatikan keselamatan Andy sehingga suatu hari dia berkata kepada
bocah tersebut, “Jangan menyeberang jalan raya sendirian. Setiap kali
pulang sekolah kamu boleh mampir ke Gereja dan saya akan menemani kamu ke
seberang jalan. Jadi dengan cara tersebut saya bisa memastikan kamu pulang ke
rumah dengan selamat.”
“Terima
kasih, Bapa Pendeta.”
“Kenapa
kamu tidak pulang sekarang? Apakah kamu tinggal di Gereja setelah pulang
sekolah?”
“Aku
hanya ingin menyapa kepada Tuhan… sahabatku.”
Dan
Pendeta itu segera meninggalkan Andy untuk melewatkan waktunya di depan altar
berbicara sendiri, tapi kemudian Pendeta tersebut bersembunyi di balik altar
untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andy kepada Bapa di Surga.
Andy
berkata…
Engkau
tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak
mencontek walaupun temanku melakukannya.
Aku
makan satu kue dan minum airku. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa
kumakan hanyalah kue ini. Terima kasih buat kue ini Tuhan! Aku tadi melihat
anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir
buatnya. Lucunya, aku nggak begitu lapar.
Lihat,
ini selopku yang terakhir. Aku mungkin harus berjalan tanpa sepatu minggu
depan. Engkau tahu sepatu ini akan rusak, tapi tidak apa-apa…paling tidak aku
tetap dapat pergi ke sekolah.
Orang-orang
berbicara bahwa kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, bahkan
beberapa temanku sudah berhenti sekolah. Tolong bantu mereka supaya bisa
sekolah lagi. Tolong Tuhan…
Oh
ya, Engkau tahu ibu memukulku lagi karena aku nakal. Ini memang menyakitkan,
tapi aku tahu sakit ini akan hilang, paling tidak aku masih punya seorang Ibu.
Tuhan,
Engkau mau lihat lukaku? Aku tahu Engkau mampu menyembuhkannya, disini… di
sini… aku rasa Engkau tahu yang ini kan? Tolong jangan marahi Ibuku ya? Dia
hanya sedang lelah dan kuatir akan kebutuhan makanan dan biaya sekolahku…
Itulah mengapa dia memukul kami.
Oh
Tuhan… Aku rasa aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis yang cantik
di kelasku, namanya Anita. Menurut Engkau apakah dia akan menyukaiku?
Bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Engkau tetap menyukaiku karena aku
tidak usah menjadi siapapun hanya untuk menyenangkanMu. Engkau adalah
sahabatku.
Hei…
ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira? Tunggu saja sampai
Engkau lihat, aku punya hadiah untukMu. Tapi ini kejutan bagiMu. Aku berharap
Engkau akan menyukainya.
Ooops
aku harus pergi sekarang.
Kemudian
Andy segera berdiri dan memanggil Pendeta itu, “Bapa Pendeta, Bapa Pendeta,
aku sudah selesai bicara dengan sahabatku, anda bisa menemaniku menyeberang
jalan sekarang!”
Kegiatan
tersebut berlangsung setiap hari, Andy tidak pernah absen sekalipun. Pendeta
Agaton berbagi cerita ini kepada jemaat di Gerejanya setiap hari Minggu karena
dia belum pernah melihat suatu iman dan kepercayaan yang murni kepada Allah…
suatu pandangan positif dalam situasi yang negatif.
Pada
hari Natal, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga dia tidak bisa memimpin gereja
dan dirawat di rumah sakit. Gereja diserahkan pengelolaannya kepada 4 wanita
tua yang tidak pernah tersenyum dan
selalu
menyalahkan segala sesuatu yang orang lain perbuat. Mereka juga sering
mengutuki orang yang menyinggung mereka.
Mereka
sedang berlutut memegangi rosario mereka ketika Andy tiba dari pesta Natal di
sekolahnya, dan menyapa “Halo Tuhan… Aku…”
“Kurang
ajar kamu bocah!!! Tidakkah kamu lihat kami sedang berdoa???!!! keluar…!!!
”
Andy
begitu terkejut, “Di mana Bapa Pendeta Agaton? Dia seharusnya membantuku
menyeberangi jalan raya. Dia selalu menyuruhku mampir lewat pintu belakang
Gereja. Tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Tuhan Yesus, ini hari ulang
tahun-Nya, aku punya hadiah untuk-Nya... ”
Ketika
Andy mau mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat
wanita itu menarik kerahnya dan mendorongnya keluar Gereja.
Sambil
membuat tanda salib ia berkata “Keluarlah bocah… kamu akan mendapatkannya!
!!”
Oleh
karena itu Andy tidak punya pilihan lain kecuali sendirian menyeberangi jalan
raya yang berbahaya tersebut di depan Gereja.
Dia
mulai menyeberang ketika tiba-tiba sebuah bus datang melaju dengan kencang, sebab
di situ ada tikungan yang tidak terlihat pandangan.
Andy
melindungi hadiah tersebut di dalam saku bajunya, sehingga dia tidak melihat
datangnya bus tersebut.
Waktunya
hanya sedikit untuk menghindar, tapi itu tidaklah cukup…
Dan…
Andy
pun tewas tertabrak. Orang-orang di sekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh
bocah malang yang tak bernyawa tersebut.
Tiba-tiba,
entah muncul darimana ada seorang pria berjubah putih dengan wajah yang halus
dan lembut namun penuh dengan air mata datang dan memeluk tubuh bocah malang
tersebut. Dia menangis.
Orang-orang
penasaran dengan dirinya dan bertanya, “Maaf Tuan, apakah Anda keluarga
bocah malang ini? Apakah Anda mengenalnya? ”
Pria
tersebut dengan hati yang berduka karena penderitaan yang begitu dalam segera
berdiri dan berkata, “Dia adalah sahabatku.”
Hanya
itulah yang dia katakan.
Dia
mengambil bungkusan hadiah dari dalam baju bocah malang tersebut dan menaruhnya
di dadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh bocah malang tersebut dan
keduanya kemudian menghilang. Kerumunan orang tersebut semakin penasaran…
Di
malam Natal, Pendeta Agaton menerima berita yang sungguh mengejutkan. Dia
berkunjung ke rumah Andy untuk memastikan pria misterius berjubah putih
tersebut. Pendeta itu bertemu dan bercakap-cakap dengan kedua orang tua Andy.
“Bagaimana
Anda mengetahui putera Anda meninggal?”
“Seorang
pria berjubah putih yang membawanya kemari.” ucap ibu Andy terisak.
“Apa
katanya?” Tanya pak pendeta.
Ayah
Andy berkata, “Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka.
Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sangat kesepian atas meninggalnya
Andy sepertinya Dia begitu mengenal Andy dengan baik.”
Tapi
ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai dirinya. Dia
menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia menyibakkan rambut Andy dari
wajahnya dan memberikan kecupan di keningnya kemudian Dia membisikkan sesuatu…”
“Apa
yang dia katakan?”
“Dia
berkata kepada puteraku… ‘Terima kasih buat kadonya. Aku akan segera
berjumpa denganmu. Engkau akan bersamaku.'”
Dan
sang Ayah melanjutkan, “Anda tahu kemudian, semuanya itu terasa begitu
indah. Aku menangis tetapi tidak tahu mengapa bisa demikian. Yang aku tahu aku
menangis karena bahagia… aku tidak dapat menjelaskannya Bapa Pendeta, tetapi
ketika Dia meninggalkan kami ada suatu kedamaian
yang
memenuhi hati kami. Aku merasakan kasihnya yang begitu dalam di hatiku… Aku
tidak dapat melukiskan sukacita di dalam hatiku.”
“Aku
tahu puteraku sudah berada di Surga sekarang. Tapi tolong katakan padaku, Bapa
Pendeta, siapakah Pria ini yang selalu bicara dengan puteraku setiap hari di
Gerejamu? Anda seharusnya mengetahui karena Anda selalu berada di sana setiap
hari, kecuali pada waktu puteraku meninggal.”
Pendeta
Agaton tiba-tiba merasa air matanya menetes di pipinya, dengan lutut gemetar
dia berbisik, “Dia tidak berbicara dengan siapa-siapa, kecuali dengan Tuhan.”
Inilah
pribadi Yesus, Dia sangat baik, sangat mencintai kita. Tuhan Yesus tidak
menganggap kita sebagai hamba, melainkan sahabat. Sahabat adalah tempat
berbagi, apakah hari ini kita seudah berbagi dengan Tuhan? Apakah kita sudah
bercerita kepada Tuhan tentang keseharian kita walau Tuhan sudah tahu? Tuhan
juga ingin dikasihi. Bukan dengan hanya kegereja, bukan hanya menunjukkan
identitas kita sebagai Katolik, melainkan dengan banyak berdoa, bericara dengan
Tuhan, tersenyum kepada Tuhan, dan mengasihi sesama.
Bapa kita ingin kita selalu didekatnya. Bagaimana
caranya, kita semua tahu akan hal ini, tapi jarang kita lakukan, mengasih
sesama, rajin berdoa, rajin ke Gereja.
Komentar
Posting Komentar
Mohon untuk berkomentar dengan sopan dan tidak menyinggung unsur SARA